Masa Nyekar Tiba Kembali

DISEBUT dengan istiah "ruwahan" lantaran tradisi tersebut memang dilakukan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa ataupun bulan Sya'ban dalam penanggalan Hijriyah. Yaitu bulan sebelum menginjak masa puasa Ramadhan.

Tradisi ruwahan sejatinya telah ada sejak dahulu kala, yaitu sebelum masa Islam datang. Tepatnya adalah pada masa Majapahit dengan istilah sradha, yaitu istilah yang digunakan oleh umat Hindu untuk sebuah upacara pemuliaan roh leluhur yang telah meninggal.

***
Nyekar dan Nyadran bulan Ruwah
Nyekar dan Nyadran bulan Ruwah
Di atas adalah petikan dari jurnal yang telah terkutip sekira satu tahun lalu.
Dan saat ini tanpa banyak orang sadari, ruwah ataupun Sya'ban telah menginjak lebih dari setengah bulan. Artinya, masa nyekar telah tiba, masa yang intinya merupakan tradisi mengirim doa kepada leluhur yang telah mendahului kita.

Nyekar ataupun berkirim bunga memanglah sebuah tradisi yang tak terikat pada satu agama apapun. Hanya saja tradisi itu semakin menguat lantaran ada keyaqinan bahwa ada makna baik di dalamnya. Ialah berkirim doa.

Tradisi nyekar tetap dilakukan oleh warga lantaran membawa banyak nilai pun manfaat lebih di dalamnya. Yaitu tatkala kita mampu merawat tradisi baik, maka bukan tidak mungkin budaya memanusiakan orang lain akan terus terkelola di sana.

Nyekar & Nyadran
Ruwahan, Nyekar, & Nyadran
Di pedukuhan Janti, baik Janti Lor XI ataupun Janti Kidul XII, beberapa hari lalu, tepatnya pada hari Minggu 15 Juni 2014 telah di adakan ceremonial ruwahan di kompleks pemakaman. Berupa kenduri dan selamatan yang dihadiri oleh warga. Maka selanjutnya kegiatan nyekar akan dilakukan oleh warga yang berlangusng tiap hari, sampai dengan jelang bulan puasa Ramadhan kelak. [uth]

'

Nyekar tetap dilakukan oleh warga lantaran membawa banyak nilai pun manfaat lebih di dalamnya. Tatkala kita mampu merawat tradisi baik,budaya memanusiakan orang lain akan terkelola

Post a Comment

[blogger][facebook]

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.