Ramadhan Janti Nanggulan Momentum Saling Menghormati

Meskipun puasa Ramadhan latihan jathilan tetap dilakukan selepaswaktu Sholat Tarawih.

Ya, kegiatan berkesenian pada bulan Ramadhan 1434H ini tak begitu terkendala lantaran teman-teman pelaku seni jathilan tetap bisa membagi waktunya dengan tanpa mengganggu kegiatan ibadah puasa.

Janti Jatisarono Nanggulan Kulon Progo
Janti Jatisarono Nanggulan Kulon Progo
Sebagaimana aktivitas rutin setiap minggunya, latihan berkesian menari pun menabuh gamelan dari paguyuban Bekso Kyai Janti dilakukan setiap malam Minggu. Begitu pula pada malam Minggu kali ini, kegiatan latihan itu berlangsung dengan riang tanpa harus mengganggu mereka yang sedang mengaji ataupun kebaktian.

Siang hari para warga Janti memang menebar diri untuk beraktivitas sesuai profesinya masing-masing. Akan tetapi hal itu tak dijadikan kendala untuk merasa "capek" lalu bermalas-malasan pada malam harinya. Pasalnya, meski sianghari melakukan aktivitas, namun warga pedukuhan JantiJatisarono Nanggulan Kulon Progo Yogyakarta tetap berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan menunaikan ibada sesuai keyaqinan masing-masing.

Dan meski bulan Ramadhan banyak warga yang beribadah di Masjid, namun sebagai penduduk yang memiliki keyaqinan berbeda, selain ada yang ke Masjid, ada pula warga yang melaksanakan ibadahnya di Kapel, yaitu mereka saudara-saudara kita umat nasrani. Hal ini menunjukkan bahwa kemerdekaan untuk menjalankan keyaqinan sangat tersirat di perkampungan Janti.

Bulan puasa Ramadhan sebagai bulan berkah, bulan emas, tak ada hal yang bisa dijadikan kendala untuk menjalankan kebersamaan meskipun berbeda.

Serupa dengan kegiatan berkebudayaan berujud jatilan, tak sedikit teman-teman tetap melaksanakan latihan jathilan. Namun bentuk saling menghargai juga tetap dipraktekan. Kesempatan latihan jathilan yang dilakukan selepas waktu sholat tarawih bukan saja demi memberi kesempatan teman muslim untuk menunaikan ibadahnya. Lebih dari itu adalah juga bentuk menghormati bagi mereka yang menjalankan ibadah untuk tak merasa terganggu dengan irama gamelan jathilan itu sendiri.

Hal menggembirakan lain, bagi saudara-saudara umat muslimpun tak "haus penghormatan," yaitu dengan tak begitu merasa pusing atapun merasa terganggu dengan adanya warung makan (kuliner) yang tetap buka. Tak lain, karena ada kesaling-sadaran antarwarga bahwa semua memiliki porsi masing-masing dalam menjalankan kewajiban dan tanggungjawabnya. Puasa Ramadhan sebagai "puasa wajib" tak harus dijadikan sebagai alasan orang lain yang harus menghidupi keluarganya dengan "wajib menutup warung makan," meski pada siang hari.

Rukun Agawe Santosa..! [uth]

Puasa Ramadhan tak menjadikan saudara umat muslim "haus penghormatan," yaitu tak merasa pusing & terganggu dengan adanya warung makan yang tetap buka

Post a Comment

[blogger][facebook]

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.