Panen Padi di Nanggulan Kulon Progo

Panen padi di Nanggulan Kulon Progo lumayan sedikit membuat warga tersenyum. Hal itu sebagaimana yang dirasakan oleh sebagian warga pedukuhan Janti, Desa Jatisarono.

Panen padi di wilayah kecamatan Nanggulan akhir tahun 2012 ini, utamanya di area persawahan seputaran kampung Janti, lumayan memberikan hasil yang memuaskan. Pasalnya panen yang dihasilkan tak meleset jauh dari harapan.

Petani di lingkungan kaki bukit Menoreh, didalamnya termasuk petani di Pedukuhan Janti, baik Janti Lor XI ataupun Janti Kidul XII, memang sebagian besar adalah masyarakat tani penanam padi. Sementara kebutuhan pokok berujud beras yang ada di wilayah Jogjakarta, sedikit-banyak juga berasal dari wilayah Nanggulan, tentu termasuk didalamnya adalah wilayah pedukuhan Janti.
.
Panen Padi di Nanggulan, Kulon Progo
Panen Padi di Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta
Dalam proses panen padi di Nanggulan Kulon Progo, setidaknya ada dua metode yang diterapkan. Pertama adalah memanen padi dengan cara meminta bantuan tetangga sekitar untuk "dereb" alias memetik padi di sawah, dimana hasil upahnya nanti adalah juga berujud hasil petik itu. Upah derep tersebut disebut bawon.

Upah derep yang berujud bawon gabah ataupun bawon padi tersebut dihitung berdasarkan perbandingan hasil petikan padinya. Biasanya adalah satu berbanding enam sampai delapan). Artinya hail padi yang dipetik ditakar dulu, misalnya menggunakan baskom menakarnya, maka ketika hitungan sebanyak enam (ataupun delapan) baskom, maka yang memetik alias yang derep akan memperoleh jatah sebanyak satu baskom. Kebijakan enam ataupun delapan itu juga didasarkan pada jauh dekatnya yang memetik. Apabila yang memetik padi dahulunya juga diminta bantuan saat menanamnya, besar kemungkinan akan memperoleh porsi lebih bagus, yaitu enam berbanding satu, bukan delapan berbanding satu. Cara ini banya dipakai oleh para petani penggarap, yaitu petani yang hanya buruh dan harus setor hasil panen kepada sang pemilik sawah.

Derep mencari bawon padi
Derep dengan upah bawon padi
Metode kedua adalah dengan cara "tebas" alias diborong. Pada metode ini sebenarnya sudah sedikit menuju arah kapitalis, lantaran yang bermain adalah mereka yang memiliki banyak uang untuk menaksir harga padi yang terhampar disawah dan lalu membelinya dengan kesepakatan tersendiri bersama pihak petani pemilik lahan.

Metode ini adakalanya memang dilakukan oleh petani penggarap, namun itu hanya sedikit jumlahnya. Yang lazim melakukannya adalah para petani yang sekaligus juga pemilik lahan. Artinya petani yang memiliki kuasa dan tak butuh setor kepada pihak lain.

Pada metode tebas ini sebenarnya masih diterapkan pula sistem dereb oleh sang penebas, namun itu sangat jarang. Yang banyak dilakukan oleh si penebas adalah sistem gaji. Ya kembali lagi, karena si penebas memiliki uang maka apapun yang dia lakukan dalam transaksi di persawahan tetap lebih banyak menggunakan uang. Termasuk ketika memberikan upah kepada para pemetik padi hasil tebasannya, mereka lebih sering memberikan upah berujud uang, bukan padi ataupun gabah.

Begitulah mengenai perkembangan panen Padi di Nanggulan Kulon Progo. Apapun cara serta metodenya, semoga tak ada pihak yang merasa ditinggalkan pun dirugikan. Win-win solution harus tetap diterapkan pada masyarakat bawah ini, agar tetap dalam suasana berkehidupa guyup rukun bebarengan karo kancane..! [uth]

*) Panen padi di Nanggulan Kulon Progo

Ada dua metode yang diterapkan pada proses panen padi di Nanggulan Kulon Progo, yaitu sistem derep bawon dan tebas.

Post a Comment

Morni Kasila said... 13 December 2013 at 13:48

alhamdulillah sekarang panen derep sudah hampir tdak ada lagi. karena ada model sabit (y)
http://morni_kasila.student.ipb.ac.id/

[blogger][facebook]

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.